Tampilkan postingan dengan label Hikmah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hikmah. Tampilkan semua postingan

Enam Nasihat Ibrahim bin Adham


Pada suatu hari, ada seorang lelaki datang bertemu Ibrahim bin Adham.

“Wahai Abu Ishak (Ibrahim)! Saya seorang yang banyak berdosa dan zalim. Sudikah kiranya Tuan mengajar saya supaya menjadi zuhud, agar Allah menerangi jalan hidup saya dan melembutkan hati saya yang keras ini,” lelaki itu bertanya dan memohon bantuan.

“Kalau kau dapat memegang teguh enam ini, nescaya engkau akan selamat,” jawab Ibrahim.

“Apakah itu?” tanya lelaki tersebut.

Peti Kuno Nuri Bey

Nuri Bey adalah seorang Albania yang suka tepekur dan disegani, yang beristrikan wanita jauh lebih muda dari dirinya.
Suatu malam, ketika ia pulang lebih awal dan biasanya seorang pelayan yang setia menghadapnya dan berkata, “Istri Tuan berkelakuan mencurigakan. Ia berada di kamarnya dengan sebuah peti besar, cukup besar untuk menyimpan orang; peti itu dulu milik kakek Tuan. Mestinya peti itu hanya berisi beberapa sulaman kuno. Hamba yakin, kini didalamnya terdapat lebih dari sekedar sulaman. Dan hamba, yang sejak dulu menjaganya, kini tidak diperbolehkan membukanya.”
Nuri pergi kekamar istrinya, dan mendapatkannya duduk murung disamping peti kayu besar itu.

Ilmu Berkurang Karena Maksiat


Imam Syafi'i menuturkan
شكوت إلي وكيع سوء حفظي ** وأرشدني إلي ترك المعاص
وأخبرني بأن علم النور ** ونور الله لا يهدى لعاص

Aku pernah mengadukan keluhanku kepada guruku Imam Waki' tentang jeleknya hafalanku
Dan beliau membimbingku ( menyuruhku) untuk meninggalkan maksiat
Dan beliau juga mengkhabarkan kepadaku bahwasannya Ilmu itu Nuur (cahaya)
Dan Nurullaah ( cahaya Allah ) tidak akan datang petunjuk nya pada orang yang bermaksiat.

Alam semesta adalah guru yang bijak


Tatkala seorang guru sufi besar Hasan, mendekati akhir masa hidupnya, seseorang bertanya kepadanya, “Hasan, siapakah gurumu?”

Dia menjawab, “Aku memiliki ribuan guru. Menyebut nama mereka satu-persatu akan memakan waktu berbulan-bulan, bertahun-tahun dan sudah tidak ada waktu lagi untuk menjelaskannya. Tetapi ada tiga orang guru yang akan aku ceritakan kepadamu.

Hari esok yang lebih baik


Tersebutlah seorang penganut tasawuf bernama Nidzam al-Mahmudi. Ia tinggal di sebuah kampung terpencil, dalam sebuah gubuk kecil. Istri dan anak-anaknya hidup dengan amat sederhana. Akan tetapi, semua anaknya berpikiran cerdas dan berpendidikan. Selain penduduk kampung itu, tidak ada yang tahu bahwa ia mempunyai kebun subur berhektar-hektar dan perniagaan yang kian berkembang di beberapa kota besar. Dengan kekayaan yang diputar secara mahir itu ia dapat menghidupi ratusan keluarga yg bergantung padanya. Tingkat kemakmuran para kuli dan pegawainya bahkan jauh lebih tinggi ketimbang sang majikan. Namun, Nidzam al-Mahmudi merasa amat bahagia dan damai menikmati perjalanan usianya.

Sebutir kurma penjegal Do’a


Usai menunaikan ibadah haji, Ibrahim bin Adham berniat ziarah kemesjidil Aqsa. Untuk bekal di perjalanan, ia membeli 1 kg kurma dari pedagang tua didekat mesjidil Haram. Setelah kurma ditimbang dan dibungkus, Ibrahim melihatsebutir kurma terletak dekat timbangan. Menyangka kurma itu bagian dari yang ia beli, Ibrahim memungut dan memakannya. Setelah itu ia langsung berangkat menuju Al Aqsa.

Pelajaran dari Abu Yazid Al-Busthami tentang Ujub dan Takabur.


Sahabatku rahimakumullah..
Dalam kehidupan kita, seringkali kita juga lebih mudah untuk mendapatkan pelajaran dari cerita-cerita sederhana ketimbang uraian-uraian panjang yang ilmiah. Berikut ini sebuah cerita dari Guru Sufi terkenal, Bayazid Al-Busthami, yang insya Allah, dapat kita ambil pelajaran daripadanya;

Di samping seorang sufi, Bayazid juga adalah pengajar tasawuf. Di antara jamaahnya, ada seorang santri yang juga memiliki murid yang banyak. Santri itu juga menjadi Kyai bagi jamaahnya sendiri. Karena telah memiliki murid, santri ini selalu memakai pakaian yang menunjukkan kesalehannya, seperti baju putih, serban, dan wewangian tertentu.

Kepala Ikan untuk Sang Nelayan



Seorang nelayan salih di Tunisia tinggal di sebuah gubuk yang sederhana dari tanah liat. Setiap hari ia melayarkan perahunya untuk menangkap ikan. Setiap hari, ia terbiasa menyerahkan seluruh hasil tangkapannya pada orang-orang miskin dan hanya menyisakan sepotong kepala ikan untuk ia rebus sebagai makan malamnya.

Nelayan itu lalu berguru kepada syaikh besar sufi, Ibn Arabi. Seiring dengan berlalunya waktu, ia pun menjadi seorang syaikh seperti gurunya.

Suatu saat, salah seorang murid sang nelayan akan mengadakan perjalanan ke Spanyol. Nelayan itu memintanya untuk mengunjungi Syaikhul Akbar, Ibn Arabi. Nelayan itu berpesan agar dimintakan nasihat bagi dirinya. Ia merasakan kebuntuan dalam jiwanya.

Hadiah Salat Malam


Seorang pencuri masuk ke rumah Ahmad bin Khazruya, seorang sufi besar. Ia sibuk mencari barang berharga untuk dicuri, tetapi ia tak menemukan apa-apa. Ketika pencuri itu hendak pergi dengan kecewa, Ahmad, sang sufi, memanggilnya.
"Anak muda, ambillah ember ini dan timba air dari sumur. Berwudhulah kau dengan air itu dan dirikanlah salat. Kalau ada sesuatu, nanti aku berikan padamu, supaya kau tak pulang dengan tangan hampa," ujar Ahmad.

Kisah Sufi Kaya dan Sufi Miskin


Suatu saat, seorang guru merekomendasikan kepada muridnya untuk berguru kepada seorang sufi ternama. Setelah melewati perjalanan yang amat panjang, sang Murid akhirnya bisa berjumpa dengan guru yang dimaksud.

Betapa kagetnya setelah ia mengatahui rumahnya yang mewah bak istana raja. Ia bertanya kepada para tetangganya, apakah betul bahwa istana itu tempat tinggal sang Sufi sebagaimana yang direkomendasikan oleh gurunya. Semuanya menjawab “Ya”.

Taubatnya Sang Pembunuh


kisah pertaubatan 
“Jangan pernah mengira bahwa engkaulah yang memperbaiki dirimu. Taubatmu adalah rahmat dari Allah. Demikian pula kemampuanmu untuk menindaklanjuti taubat itu.”
Pernah pada suatu ketika, ada seorang penjahat kejam yang telah membunuh sembilan puluh sembilan orang. Suatu hari, dia mendatangi seorang guru agama dan mengatakan bahwa dia ingin mengubah hidupnya, sebagai taubat atas segala kesalahannya. Guru itu menjawab bahwa ia sudah tidak mungkin lagi diampuni karena dosanya sudah ‘keterlaluan’.

Adikku ... Hidup Di Dunia Hanyalah Sementara


Kecil, dimanja. Muda, foya-foya.Tua,kaya raya. Mati,masuk surga.

Inilah bahan candaan anak muda saat ini. Mungkin ini cuma bercanda. Namun, kadang juga ada yang punya prinsip hidup seperti ini. Begitu pula dengan seorang adik. Seorang adik dinasehati, “Dek, kamu di dunia ini hanya hidup sementara, jagalah ibadahmu.” Entah mengejek atau sekedar guyonan, dia menjawab, “Justru itu kak, kita manfaatkan hidup di dunia sekarang dengan foya-foya.

Sungguh adik yang satu ini jauh dari agama. Hidayah memang di tangan Allah. Namun nasehat haruslah terus disampaikan karena dialah adik satu-satunya yang setiap kakak pasti menginginkan kebaikan bagi saudaranya sebagaimana dia pun telah mendapatkan kebaikan.

Jika hidup ibarat Kecap


Berwarna hitam, tapi rasanya enak.. 
Jangan menilai buku dari cover-nya. Jangan tertipu oleh fananya dunia. Walau kadang cobaan yang kita hadapi terlihat berat, namun akan selalu ada sesuatu yang indah di balik itu semua. 

Ada yang dikemas dalam botol beling, botol plastik, plastik isi ulang, maupun sachet plastik yang kecil.. 
Walau kita terlahir dalam kondisi yang berbeda-beda, ada yang kaya tapi ada juga yang kurang kaya, ada yang ganteng/cantik tapi ada juga yang kurang ganteng/cantik dikit, dsb, namun hidup yang dijalani pada dasarnya sama. Lahir, tumbuh, berkembang, meninggal. Bagi yang sudah paham mungkin akan memaknai hidup untuk beribadah di mana setiap materi, waktu, dan tindakan ada pertanggungjawabannya. 

Ada kecap manis, kecap asin, bahkan kini ada kecap pedas.. 


Ketika Ibrahim bin Adham menangis

Suatu hari, seorang tokoh sufi besar, Ibrahim bin Adham, mencoba untuk memasuki sebuah tempat pemandian umum. Penjaganya meminta wang untuk membayar karcis masuk. Ibrahim menggeleng dan mengaku bahwa ia tak punya wang untuk membeli karcis masuk.

Penjaga pemandian lalu berkata, “Jika engkau tidak punya wang, engkau tak boleh masuk.”
Ibrahim seketika menjerit dan tersungkur ke atas tanah. Dari mulutnya terdengar ratapan-ratapan kesedihan. Para pejalan yang lewat berhenti dan berusaha menghiburnya. Seseorang bahkan menawarinya wang agar ia dapat masuk ke tempat pemandian.
Ibrahim menjawab, “Aku menangis bukan karena ditolak masuk ke tempat pemandian ini.

Burung sehat & Burung cacat

Syaqiiq al-Balkhi adalah teman Ibrahim bin Adham yang dikenal ahli ibadah, zuhud dan tinggi tawakalnya kepada Allah. Hingga pernah sampai pada tataran enggan untuk bekerja.

Penasaran dengan keadaan temannya, Ibrahim bin Adham bertanya,

“Apa sebenamya yang menyebabkan Anda bisa seperti ini?”

Syaqiiq menjawab,
 “Ketika saya sedang dalam perjalanan di padang yang tandus, saya melihat seekor burung yang patah kedua sayapnya.

Lalu saya berkata dalam hati, aku ingin tahu, dari mana burung itu mendapatkan rizki. Maka aku duduk memperhatikannya dari jarak yang dekat.

Kedudukan Ulama

Sayyidina Ali K.W berkata: 

1. Orang alim adalah lampu Allah di bumi. Maka, barangsiapa yang Allah menghendaki kebaikan baginya, dia akan memperoleh cahaya (ilmu) itu.

2. Kedudukan orang alim bagaikan pohon kurma, engkau menunggu kapan buahnya jatuh kepadamu.

3. Orang alim lebih utama dari pada orang yang berpuasa, mengerjakan shalat malam (tahajud), dan yang berjihad di jalan Allah. Jika seorang alim meninggal, maka terjadi lubang dalam islam yang tidak tertutupi sehingga datang orang alim lain yang datang kemudian (menggantikannya).

Aku diuji dengan empat nyawa

Hidup ini memang ujian. Seperti apa pun warna hidup yang Allah berikan kepada seorang hamba, tak luput dari yang namanya ujian. Bersabarkah sang hamba, atau menjadi kufur dan durhaka.

Dari sudut pandang teori, semua orang yang beriman mengakui itu. Sangat memahami bahwa susah dan senang itu sebagai ujian. Tapi, bagaimana jika ujian itu berwujud dalam kehidupan nyata. Mampukah?

Hal itulah yang pernah dialami Bu Khairiyah. Semua diawali pada tahun 1992.
Waktu itu, Allah mempertemukan jodoh Khairiyah dengan seorang pemuda yang belum ia kenal. Perjodohan itu berlangsung melalui sang kakak yang prihatin dengan adiknya yang belum juga menikah. Padahal usianya sudah nyaris tiga puluh tahun.

Detik-detik wafatnya Rasulullah

Masjid Nabawi
Al Arif Billah Al Ustadz Al Habib Ali Al Jufry mengkisahkan tentang Detik-detik wafatnya Rosul SAW
Wafatnya Adalah Kehidupan Sejatinya
Wahai,bagaimana hati kita tidak tergetar dan semakin merasakan kerinduan kepada Rasulullah SAW? Bagaimana hati kita tidak terkesan dengan beliau ? Bagaimana kita tidak dapat melupakan perintah untuk mencintai beliau? Bagaimana hati kita tidak terikat untuk senantiasa merindukan beliau? Bagaimana hati kita tidak tesentuh kala pribadi beliau diperdengarkan?
Dalam haji wada’nya (haji perpisahan), Rasulullah SAW berkhutbah di hadapan sekitar 120.000 orang, “Wahai manusia,dengar dan perhatikanlah,sesungguhnya aku tidak akan bertemu lagi dengan kalian selepas tahun ini.”
Semuanya terdiam, sambil terus mendengarkan kata demi kata yang diucapkan Rasulullah SAW.

Sungguh Tega Kau Nak... Itu Hanya Sebuah Cincin..

 
Kisah ini disebutkan oleh al-Akh asy-Syaikh Ali bin Abdul Khaliq al-Qarni dalam ceramah yang berjudul, Kull Yaghdu (masing-masing akan pergi). Kisah ini dituturkan kepadanya oleh salah seorang penjual perhiasan di daerah selatan…

Penjual perhiasan itu mengatakan:

Suatu hari dari hari-hari terakhir bulan Ramadhan, seorang laki-laki dan istrinya, serta ibu dan anaknya datang kepadaku. Sang ibu sangat pemalu dan ia menggendong anak dari laki-laki ini… Sang ibu berdiri dengan membawa anak itu di sebelah samping, dan istrinya datang lalu mengambil emas yang harganya setara dengan 20.000 riyal. Kemudian sang ibu maju dan mengambil sebuah cincin emas yang berharga 100 riyal.

Aku Memilih Keridhaan Ibu


Ja’far Al-Khaladi bercerita tentang Imam Ar-Rabbani, Abu Muslim Ahmad bin Ali Al-Abbar. Ia berkata, “Al Abbar tergolong manusia paling zuhud. Ia meminta izin kepada ibunya untuk pergi ke Qutaibah, tetapi tidak diizinkan. Selanjutnya, sang ibu meninggal dunia. Ia pun keluar ke Khurrasan, lalu melanjutkan ke Balkh, tetapi Qutaibah sudah meninggal dunia. Mereka menghiburnya atas semua ini. Ia berkata, ‘Inilah buah ilmu; aku memilih keridhaan ibu.”‘

Inilah fikih terdalam dari Iman ini. Sesungguhnya sesuatu yang teramat penting dari tuntutan ilmu adalah amal saleh, dan di antara amal saleh terbaik adalah berbakti kepada orang tua. Kalaupun ia kehilangan ketinggian sanad dalam beberapa hadits, tetapi ia mendapatkan yang lebih penting dari itu, yaitu buah ilmu yang bermanfaat. Inilah contoh keseimbangan dalam menuntut ilmu. Jadi, jangan sampai mengabaikan pelaksanaan kewajiban agama, tidak pula meremehkan nafilah (ibadah sunah), karena tuntutan dan kesibukan dunia. [Siyar A'lam an-Nubala' Jilid.13 Hal.190, al-Hamidi Jilid.1 Hal.190]

Sumber tulisan


 

Copyright @ 2015