Kembali kepada Alquran dan Hadits yang Sahih dengan pemahaman Salafussalih, dan jangan lupa yang sahih pula. Sebab jika mengambil sebuah Hadits saja hanya boleh yang sahih-sahih saja dan harus membuang hadits-hadits yang Dlo,if di tempat sampah, kenapa dalam mengambil perkataan ‘Ulama tidak begitu memperdulikan jalur periwayatan atau sanadnya, sehingga banyak sekali menyebar kekacauan Aqidah yang mengatasnamakan Imam Syafi,i, IMAM MALIK, Imam Ibnu Hanbal atau Imam Abu Khanifah?.


“Tenang sudah hidup saya…” ia menghela nafasnya panjang seakan itu tarikan terakhirnya. Puas sekali, bukan, sangat puas bahkan yang tergambar di wajahnya. Binar matanya menyiratkan kebahagiaan hidup yang dijalaninya selama bertahun-tahun.

Ia memiliki isteri yang cantik, yang menjadi perantaran kelahiran seorang putri jelita serta tiga ksatria kecilnya. Rumah besar, berhalaman dan latar belakang yang luas. Kolam renang yang menyegarkan di kelilingi taman bunga yang indah menenteramkan pandangan. Bekerja dengan penghasilan yang takkan pernah habis hingga tanggal gajian berikutnya tiba, mobil mewah, serta beragam kenikmatan dunia lainnya yang tak dimiliki separuh lebih penduduk bumi ini.
Pada suatu hari, Fatimah mengadu kepada suaminya Ali bin Abu Talib tentang kesakitan pada tangannya kerana keletihan menggiling gandum untuk membuat roti.

“Bapamu telah datang membawa balik tawanan perang. Berjumpalah dengannya dan mintalah seorang hamba untuk membantu mu,” kata Ali.
Lalu Fatimah pergi bertemu bapanya dan menyatakan hasrat untuk mendapatkan seorang hamba bagi membantu tugas hariannya di rumah. Bagaimanapun Rasulullah s.a.w. tidak mampu memenuhi permintaan anak kesayangannya itu. Lalu Baginda s.a.w. pergi menemui puterinya serta menantu itu.
Prev

'

Memuat...